Tampilkan postingan dengan label Penyakit Kanker. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Penyakit Kanker. Tampilkan semua postingan

Senin, 31 Agustus 2015

Mitos dan fakta kanker payudara

Mitos dan fakta kanker payudara


Mitos dan fakta kanker payudara - Banyaknya mitos yang beredar, menyebabkan banyak orang salah beranggapan tentang kanker payudara. Misalnya, banyak mengkonsumsi kafein atau penggunaan mammograms, dapat memicu kanker payudara padahal sebagian besar mitos tersebut tidak terbukti.

Berikut ini beberapa Mitos dan fakta kanker payudara yang berkembang di kalangan masyarakat, tapi bagaimana yang sebenarnya?

  1. Mitos: Perempuan dengan latar belakang keluarga pengidap kanker payudara, akan terkena kanker payudara.
    Fakta : Kebanyakan atau sekitar Sekitar 70% perempuan penderita kanker payudara, justru tidak memiliki latar belakang tersebut. Namun, jika ada keluarga terdekat (misalnya ibu, anak, saudara perempuan atau nenek) Anda yang mengidap kanker payudara, artinya resiko Anda terkena kanker payudara, meningkat.Lakukan pemeriksaan mamografi 5 tahun sebelum usia mereka didiagnosis terkena kanker. Namun, kebanyakan perempuan yang terkena kanker payudara tidak memiliki riwayat keluarga yang terkena kanker.

  2. Mitos : Mengenakan bra berkawat dapat meningkatkan resiko terkena penyakit kanker payudara.
    Fakta : Teori bahwa penggunaan bra berkawat dapat memampatkan saluran limfatik, menjadikan racun menumpuk sehingga menyebabkan kanker, telah dibantah. Karena, penggunaan bra atau jenis pakaian dalam lainnya tidak memicu terjadinya kanker.

  3. Mitos: Perempuan dengan payudara kecil, lebih kecil beresiko terkena penyakit kanker payudara.
    Fakta: Ukuran payudara tidak mempengaruhi kanker payudara, hanya saja, ukuran payudara yang besar, menjadikan kanker lebih sulit untuk dideteksi.

  4. Mitos: Setiap benjolan di payudara sudah pasti kanker payudara ganas?
    Fakta : Belum tentu. Selain benjolan, gejala awal kanker payudara adalah pembengkakan, iritasi, puting menjadi kemerahan atau bersisik. Kanker payudara juga dapat menyebar hingga ke bagian ketiak.
    Sebaiknya pastikan dahulu apakah benjolan itu padat atau berisi cairan. Bila cairan, dapat langsung disedot dengan jarum dan biasanya jinak. Bila padat. sebaiknya diambil dan diperiksa di laboraturium patologi anatomi untuk ditentukan apakah ganas.

  5. Mitos : Sering mengkonsumsi kafein dapat menyebabkan kanker payudara.
    Fakta : Tidak ada hubungan sebab-akibat antara mengkonsumsi kafein dengan penyakit kanker payudara. Pada kenyataannya, beberapa penelitian menunjukkan bahwa kafein dapat benar-benar menurunkan risiko kanker. Sejauh ini tidak ada bukti meyakinkan apakah nyeri payudara mungkin berhubungan dengan kafein.

  6. Mitos : Wanita yang kelebihan berat badan, memiliki tingkat resiko yang sama dengan wanita yang memiliki berat badan normal.
    Fakta : Penderita obesitas memiliki resiko lebih tinggi terkena kanker payudara, terutama setelah memasuki masa menopause.

  7. Mitos: Mamogram dapat menyebabkan kanker payudara menyebar.
    Fakta: Mamogram adalah tes baku untuk pemeriksaan payudara dengan menggunakan sinar X untuk mengambil foto jaringan. Sinar X dan tekanan mesin mamogram pada payudara tidak menyebabkan kanker menyebar. Mammograms dapat mendeteksi adanya benjolan jauh lebih dulu sebelum Anda merasakan adanya masalah di payudara Anda.
    Disarankan untuk melakukan screening mammogram setiap satu atau dua tahun sekali, terutama setelah memasuki usia empat puluh tahun.

  8. Mitos: Setiap penderita kanker payudara pasti akan meninggal.
    Fakta: Jika ditemukan dalam keadaan dini, kanker payudara bisa diobati dan disembuhkan.

  9. Mitos: Buah merah bisa menyembuhkan kanker payudara.
    Fakta: Tidak ada penelitian yang membuktikan buah merah ampuh mengatasi kanker payudara.

  10. Mitos: Pria bebas dari kanker payudara.
    Fakta: Pria juga dapat terkena kanker payudara walau persentasenya lebih kecil daripada perempuan. Jumlahnya, sekitar 1%. Kanker payudara pada pria juga berbahaya. Penyebaran kanker payudara pada pria lebih cepat karena jaringan sekitar payudara pria lebih tipis dari perempuan sehingga tahap awal mungkin sudah terjadi pelekatan pada jaringan sekitarnya.

  11. Mitos: Semua jenis kemoterapi menyebabkan kerontokan pada rambut.
    Fakta: Tidak selalu, bergantung pada jenis kemoterapi, dosis yang digunakan, dan jumlah obat. Ini merupakan efek samping dari kemoterapi yang biasanya terjadi 3 minggu setelah kemoterapi dimulai.

  12. Mitos: Bayi yang mendapatkan susu dari ibu yang menderita kanker payudara, memiliki resiko mengalami kanker payudara.
    Fakta: Penelitian menunjukan bahwa sel kanker tidak dapat terbawa melalui air susu. Sehingga mitos tersebut tidak terbukti.

  13. Mitos: Kanker payudara dapat disebabkan oleh adanya luka di payudara.
    Fakta: Tidak ada bukti yang menunjukkan benturan pada payudara dapat meningkatkan resiko terkena kanker payudara.

  14. Mitos: Pemeriksaan payudara mencegah kanker payudara.
    Fakta: Pemeriksaan payudara bertujuan mendeteksi dini kanker payudara dan tidak dapat mencegah kanker payudara.

  15. Mitos: Kanker payudara terutama menyerang perempuan berusia antara 30 dan 50 tahun.
    Fakta: Penelitian menyebutkan 77% kasus kanker payudara muncul di usia di atas 50 tahun.

  16. Mitos: Aspirin bisa mencegah kanker payudara.
    Fakta: Aspirin belum dapat dibuktikan sebagai pencegah kanker payudara, sebab belum ada penelitian yang luas untuk masalah tersebut. Walaupun secara teoritis bisa.

  17. Mitos: Payudara yang sering di remas-remas, beresiko mengalami kanker.
    Fakta: Meremas payudara (misalnya saat berhubungan intim) tidak terbukti dapat mengakibatkan kanker payudara.

  18. Mitos: Menggunakan deodoran dapat meningkatkan risiko terkena kanker payudaraFakta: Menurut National Cancer Institute (NCI), tidak ada bukti konkrit yang mengaitkan penggunaan deodoran dengan kanker payudara.


Itulah sedikit cuplikan beberapa Mitos dan fakta kanker payudara yang berkembang dimasyarakat. jangan terpengaruh akan mitos, ikuti saran dokter atau ahli kesehatan yang anda tunjuk.

 

Sumber:  terasberita

Jumat, 10 Juli 2015

10 Makanan penyebab kanker meningkat

10 Makanan penyebab kanker meningkat - American Cancer Society menyatakan sebanyak 559.650 orang diperkirakan meninggal karena penyakit kanker, dan hampir 1,5 juta kasus baru penyakit kanker diharapkan dapat didiagnosis terlebih dahulu.

Dari data statistik diperkirakan lebih dari 1.500 orang per hari terkena penyakit mematikan ini. Buku kanker: 101 Solutions to a Preventable Epidemic (New Society Publishers, 2007) menyebutkan bahwa ada 10 makanan dan minuman yang perlu dibatasi atau bahkan lebih baik untuk dihilangkan dalam diet sehat harian Anda.

10 Makanan penyebab kanker meningkat


Berikut daftar Makanan penyebab risiko kanker meningkat :

  1. Semua makanan panggang yang sedikit hangus menciptakan amina heterosiklik atau karsinogen. Contohnya, roti panggang yang telah berwarna kehitam-hitaman.

  2. Mengonsumsi daging merah akan meningkatkan risiko kanker, terutama kanker payudara.

  3. Gula, baik gula putih dan cokelat yang secara sederhana gula putih ditambahkan dengan molase (hasil samping pada industri pengolahan gula dengan wujud bentuk cair).

  4. Batasi konsumsi makanan yang terlalu asin.

  5. Soda/minuman ringan, yang menimbulkan risiko kesehatan, baik yang mengandung gula dan bahan aditif. Sebaiknya Anda mengganti pola makan minuman dan makanan yang menyediakan vitamin, mineral dan nutrisi lainnya.

  6. Kentang goreng, keripik dan makanan ringan yang mengandung lemak trans.

  7. Makanan dan minuman aditif seperti aspartame.

  8. Kelebihan alkohol.

  9. Makanan yang mengandung akrilamida, paling tinggi terdapat pada bahan makanan yang tinggi kadar karbohidrat dan makanan yang dimasak dengan cara dipanggang.

  10. Ikan ternak, yang mengandung lebih banyak racun seperti PCB.


Itulah beberapa jenis makanan yang seharusnya kita hindari, agar kita jauh dari serangan penyakit kanker. Selain menghindari makanan tersebut, tentu daya tahan tubuh harus tetap terjaga.

 

 

Senin, 23 Desember 2013

Bedakan Benjolan Tumor dan Kanker Payudara

Perbedaan tumor dan kanker payudara - Kanker payudara merupakan ancaman serius bagi kaum hawa. Bagaimana tidak, prevalensinya menempati urutan wahid jenis kanker paling banyak pada wanita, baik di dunia maupun di Indonesia. Untuk itu, wanita perlu lebih waspada dengan rutin melakukan pemeriksaan pada payudaranya.

Namun tidak semua benjolan di payudara adalah kanker. Faktanya, hanya 15 persen dari benjolan yang bisa berkembang menjadi kanker. Ketua Umum Pengurus Pusat Perhimpunan Onkologi Indonesia (PP POI) Dradjat Ryanto Suardi mengatakan, selain kanker benjolan bisa berupa tumor jinak, namun keduanya tetap perlu diwaspadai.

"Tumor jinak lebih tidak berbahaya daripada kanker karena tidak menyebabkan kegagalan organ yang dihinggapinya," jelasnya dalam konferensi pers Breast Cancer Expert Forum dengan tema "Transforming Advanced Breast Cancer at the Molecular Level", di Jakarta.

Dradjat pun menjelaskan perbedaan keduanya, pertama kanker lebih cepat bertumbuh dibandingkan dengan tumor. Dalam 8-200 hari, sel-sel kanker bisa membelah dengan sangat cepat. Sementara tumor jinak pertumbuhannya lebih lambat.

Kedua, ketika diraba, benjolan kanker terasa padat dan keras. "Sel-sel kanker bila teraba rasanya akan seperti meraba tulang," ujar dokter spesialis bedah onkologi dari Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS), Bandung, ini.

Sementara itu, benjolan tumor akan teraba lebih lunak. Dradjat menjelaskan, benjolan tumor pun bisa mengalami pergeseran jika ditekan, tidak seperti kanker yang kaku. Ini karena sel-sel kanker umumnya melakukan infiltrasi (penyusupan) terhadap jaringan-jaringan di sekitarnya, maka sulit untuk digerakan.

"Benjolan akibat kanker yang sudah berkembang lebih lanjut juga menyebabkan perubahan pada permukaan payudara, misalnya puting yang tertarik ke dalam, itu karena infiltrasi tadi," paparnya.

Dalam kesempatan yang sama, Kepala Subdit Penyakit Kanker Kementerian Kesehatan RI Niken Wastu Palupi, pemeriksaan payudara yang dilakukan secara rutin akan meningkatkan sensitivitas pemeriksanya untuk mendeteksi adanya benjolan. Artinya, kemampuan membedakan antara benjolan kanker dan tumor juga meningkat.

"Jika rutin melakukan pemeriksaan payudara sendiri, benjolan berukuran 1,2 sentimeter saja sudah dapat teraba," ujar dia.

Kanker payudara merupakan pertumbuhan yang tidak normal dari sel-sel payudara yang berubah menjadi ganas. Saat ini, kanker payudara adalah kanker yang paling banyak dialami oleh wanita di seluruh dunia. Di Indonesia, kasus kanker payudara mencapai 35 persen dari total kasus kanker.

Semoga informasi perbedaan tumor dan kanker payudara ini bisa memberikan wawasan lebih tentang seluk beluk penyakit pada organ payudara.

 

 

Sumber : Bedakan Benjolan Tumor dan Kanker pada Payudara